Mudik dengan motor: jarak istirahat, cara membawa barang, dan batas yang perlu diakui sejak awal
Perjalanan jauh dengan motor bukan soal kuat, tetapi soal mengatur diri.

Menjelang musim mudik, pertanyaan yang masuk ke redaksi hampir selalu sama: motor saya kuat tidak untuk perjalanan sejauh itu? Jawaban yang jujur: motornya biasanya kuat, yang sering tidak siap adalah pengendaranya. Tulisan ini membahas bagian manusianya.
Mengatur ritme, bukan mengejar waktu
Baca juga: Perpanjangan STNK lima tahunan: cek fisik, dokumen asli, dan alasan BPKB harus ikut dibawa
Kelelahan di motor datang pelan dan tidak terasa sampai sudah berbahaya. Tangan kebas, leher kaku, dan mata yang mulai sulit fokus adalah tanda yang muncul setelah tubuh sebenarnya sudah lelah lebih dulu. Karena itu, berhenti harus dijadwalkan berdasarkan waktu, bukan berdasarkan rasa. Tentukan interval istirahat sejak awal dan patuhi walau merasa masih segar. Saat berhenti, turun dari motor, lepas helm, minum, dan jalan kaki sebentar; duduk di atas motor sambil memegang ponsel bukan istirahat.
Berangkat sangat pagi lebih baik daripada berangkat malam. Perjalanan malam menggoda karena jalan sepi dan udara sejuk, tetapi jarak pandang pendek dan kantuk yang datang tiba-tiba adalah kombinasi yang buruk. Kalau terpaksa menempuh sebagian perjalanan di malam hari, lakukan di awal saat tubuh masih segar, bukan di akhir.
Hindari berkendara beriringan terlalu rapat dengan rombongan. Mengikuti motor di depan membuat Anda mengambil keputusan berdasarkan dia, bukan berdasarkan jalan. Sepakati titik kumpul, lalu biarkan tiap orang berkendara dengan ritmenya sendiri. Yang paling lambat di rombongan menentukan jadwal, bukan yang paling cepat.
Barang bawaan dan apa yang harus ditinggal
Beban yang menumpuk tinggi di belakang mengubah keseimbangan motor, terutama saat menikung dan mengerem. Letakkan barang berat serendah dan sedekat mungkin dengan pengendara. Tas yang menggantung di setang mengganggu kemudi dan bisa menyangkut; ini salah satu kebiasaan yang paling sering terlihat dan paling mudah dihentikan.
Ikat barang dengan tali yang bisa dikencangkan ulang, dan periksa ikatannya di setiap pemberhentian. Barang yang bergeser di tengah jalan jauh lebih berbahaya daripada barang yang sempat merepotkan saat dirapikan.
Terakhir, soal batas. Membawa anak kecil, membonceng dua orang, atau membawa barang melebihi kapasitas bukan hal yang diselesaikan dengan berkendara lebih hati-hati. Kalau rencananya seperti itu, pertimbangkan mengirim barang lebih dulu atau memakai moda lain untuk sebagian anggota keluarga. Mengakui batas sejak di rumah jauh lebih ringan daripada mengakuinya di pinggir jalan.