Edisi 26 Oktober 2026Jalanan Indonesia, apa adanya.
← Laju OtomotifMotor

Membonceng anak di motor: posisi duduk, pegangan, dan kapan sebaiknya tidak berangkat

Kebiasaan yang terlihat sepele di jalan kampung bisa berakibat serius di jalan raya.

Membonceng anak di motor: posisi duduk, pegangan, dan kapan sebaiknya tidak berangkat

Saya sering melihat anak kecil dibonceng di depan, berdiri di dek motor matic, tanpa helm, sementara orang tuanya menyetir dengan satu tangan. Ini bukan tulisan untuk menghakimi, karena saya tahu motor adalah satu-satunya kendaraan keluarga bagi banyak orang. Tetapi ada beberapa hal yang bisa diubah tanpa biaya, dan saya rasa perlu dibicarakan.

Pertama soal posisi. Anak yang duduk di depan menghalangi kendali setang dan, saat pengereman mendadak, badan pengendara akan menjepitnya ke setang. Posisi paling aman adalah di belakang, dengan kaki yang sudah bisa mencapai pijakan dan tangan yang bisa memegang pinggang pengendara atau pegangan belakang. Kalau kaki anak belum sampai pijakan, itu tanda yang jujur bahwa ia belum siap dibonceng untuk perjalanan di jalan raya.

Baca juga: Etika di stasiun pengisian umum: selesai mengisi, segera pindahkan kendaraan

Kedua soal helm. Helm dewasa yang longgar di kepala anak hampir tidak berguna karena akan bergeser saat terjadi benturan. Pilih ukuran yang pas, dan pastikan talinya terkunci setiap kali, bukan hanya dipakai di kepala tanpa dikaitkan.

Tanda bahwa perjalanan itu sebaiknya tidak dilakukan

Ada situasi ketika jawaban terbaik adalah tidak membonceng anak sama sekali: hujan deras dengan jarak pandang pendek, perjalanan malam di jalan tanpa lampu, atau ketika anak sedang mengantuk. Anak yang tertidur di boncengan akan kehilangan pegangan tanpa Anda sadari, dan itu salah satu kejadian yang paling sering diceritakan pembaca.

Satu hal lagi yang jarang dibahas: aba-aba. Sebelum berangkat, sepakati isyarat sederhana. Tepukan di pinggang berarti pegangan terlepas atau ada yang tidak nyaman. Anak merasa dilibatkan, dan Anda punya sistem peringatan yang tidak bergantung pada suara di tengah bising jalan.

Terakhir, kecepatan. Membawa anak berarti berkendara seolah Anda membawa sesuatu yang bisa tumpah. Lebih pelan, jarak lebih jauh, dan tidak menyalip di tempat yang ragu. Terdengar membosankan, tetapi itulah tujuan membonceng anak: sampai, bukan cepat.

KK
Kinan KusumawardaniKinan Kusumawardani ada sejak tahun pertama, 2024, dan masih nulis sampai sekarang, dari motor sampai mobil listrik. Dia satu-satunya di redaksi yang pernah menghabiskan satu malam penuh di SPKLU hanya untuk mencatat berapa lama antrean sebenarnya.