Edisi 26 Oktober 2026Jalanan Indonesia, apa adanya.
← Laju OtomotifPerawatan

Ban dan rem di musim hujan: tanda-tanda keausan yang diabaikan saat kemarau dan menjadi berbahaya saat basah

Ban dan rem yang masih 'cukup' di jalan kering bisa menjadi tidak cukup begitu aspal basah. Pemeriksaan sebelum musim hujan adalah perawatan paling murah dengan dampak paling besar.

Ban dan rem di musim hujan: tanda-tanda keausan yang diabaikan saat kemarau dan menjadi berbahaya saat basah

Ada alasan mengapa kecelakaan di musim hujan sering melibatkan kendaraan yang 'tidak ada masalah' selama berbulan-bulan sebelumnya. Di jalan kering, ban yang sudah tipis dan rem yang mulai menipis masih bekerja cukup baik sehingga pemiliknya tidak merasakan apa-apa. Air mengubah persamaan itu. Ban yang alurnya dangkal tidak lagi bisa membuang air dari bawah telapaknya, dan rem yang kurang menggigit kehilangan margin yang sebelumnya menyelamatkan.

Kabar baiknya, kedua komponen ini mudah diperiksa, dan sebagian besar pemeriksaannya bisa dilakukan sendiri sebelum memutuskan ke bengkel.

Baca juga: Filter udara mesin dan filter kabin: dua saringan dengan tugas berbeda yang sama-sama sering terlupakan

Membaca ban

Alur ban punya satu tugas utama saat hujan: menyalurkan air keluar agar karet tetap menyentuh aspal. Ketika alur menipis, air terjebak di bawah ban dan kendaraan mulai 'mengambang', kondisi yang dikenal sebagai aquaplaning, di mana setir dan rem tiba-tiba tidak berpengaruh. Hampir semua ban memiliki penanda keausan berupa tonjolan kecil di dasar alur; jika permukaan ban sudah rata dengan tonjolan itu, ban sudah waktunya diganti, apa pun yang terlihat dari luar.

Perhatikan pula pola keausan. Aus di tengah saja biasanya berarti tekanan angin terlalu tinggi, aus di kedua tepi berarti terlalu rendah, dan aus di satu sisi saja menandakan masalah penyetelan kaki-kaki. Retak halus di dinding ban menunjukkan karet yang sudah menua meski alurnya masih dalam, dan ban tua yang getas berbahaya dalam cuaca apa pun.

Tekanan angin layak diperiksa lebih sering di musim hujan. Ban yang kurang angin memperlebar bidang kontak dengan cara yang justru memperburuk pembuangan air, dan membuat respons kemudi terasa lamban saat dibutuhkan paling cepat.

Membaca rem

Tanda rem yang menuntut perhatian biasanya terdengar dan terasa sebelum terlihat. Bunyi decit tinggi saat mengerem sering merupakan indikator keausan yang memang dirancang untuk berbunyi. Bunyi gesekan logam yang kasar berarti sudah terlambat. Pedal atau tuas yang terasa lebih dalam dari biasanya, getaran saat mengerem, atau kendaraan yang menarik ke satu sisi, semuanya adalah pesan yang sebaiknya tidak ditunda sampai hujan datang.

Minyak rem adalah komponen yang paling sering dilupakan. Ia menyerap uap air dari udara seiring waktu, dan minyak rem yang sudah lama bisa kehilangan daya kerjanya saat panas. Ketinggian dan warnanya bisa dilihat di tabung penampung; jika sudah gelap atau lama tidak diganti, musim hujan adalah alasan yang baik untuk mengurusnya.

Kebiasaan yang melengkapi

Komponen yang sehat tetap perlu cara pakai yang sesuai. Di jalan basah, jarak pengereman memanjang, sehingga satu-satunya cara aman adalah mengerem lebih awal dan lebih halus. Setelah melewati genangan dalam, rem bisa sesaat kurang menggigit karena basah; tekan ringan beberapa kali untuk mengeringkannya sebelum benar-benar membutuhkannya.

Pemeriksaan ban dan rem menjelang musim hujan tidak memerlukan keahlian, hanya kesediaan untuk melihat dan mendengar. Komponen yang diganti sebelum gagal selalu lebih murah daripada apa pun yang terjadi setelah ia gagal.

IL
Intan LarasatiIntan Larasati nulis sejak 2025, satu topik satu tulisan: listrik, mobil, motor, perawatan. Dia yang paling cerewet soal label 'belum kami uji' dan pernah menahan satu artikel tiga minggu karena itu.